Sabtu, 04 Juni 2016

Yuk Simak Kisah Siti Maryam, Banyak Pelajaran yang sangat Berharga Dari Kisah ini

Surat Maryam yang tertera dalam Al-Qur’an, merupakan bukti bahwa kaum wanita bukanlah kaum yang lemah, kaum yang tidak dapat dijadikan panutan. Kisah Maryam yang sekaligus merupakan nama surat dalam Al-Qur’an ini, tentunya mengandung banyak sekali hikmah yang bermanfaat bagi manusia.


Nama Maryam bermakna ibadah. Orang tuanya memberikan nama tersebut karena berharap, bahwa nanti anaknya itu akan menjadi orang yang senantiasa beribadah kepada Allah. Maryam adalah keturunan dari keluarga yang sholeh, dan semenjak kecil ia diasuh oleh orang yang sholeh pula, yaitu Nabi Zakaria AS.

Dalam masa pertumbuhannya, Maryam sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah. Ia adalah wanita yang gemar sekali berpuasa dan melaksanakan shalat malam. Kehidupan Maryam berlangsung  terus dalam keadaan seperti itu, tidak ada sesuatu pun yang mengeruhkan kejernihan, ketenangan dan kesendiriannya dalam melaksanakan ibadah yang penuh kesungguhan dan ketundukan kepada Allah.

Tetapi Nabi Zakaria AS menemukan sesuatu yang asing dan aneh terjadi pada diri Maryam. Ia selalu mendapati Maryam telah memiliki rezeki berupa makanan, padahal tidak ada orang selain dirinya yang masuk ke mihrab Maryam.

Dari kejadian ini, Nabi Zakaria AS wafat maka yang mengurusi Maryam Diserahkan kepada Yusuf an-Najar. Dan setiap kali Yusuf hendak mengirimkan makanan kepada Maryam, ia pun selalu melihat makanan dari berbagai  jenis telah tersedia dalam mihrab Maryam.

Demikianlah kehidupan Maryam, ia senantiasa tenggelam dalam ibadahnya, berpuasa, shalat malam, dan senantiasa tunduk dan patuh kepada Allah. Pernah ada suatu saat, Allah mengutus jibril dalam bentuk manusia untuk memberikan kabar gembira kepada Maryam yaitu seorang anak laki-laki yang dikandungnya. Maryam sangat terkejut menerima berita yang disampaikan oleh jibril sampai-sampai berita itu diabadikan dalam Al-Qur’an. Maryam berkata “Bagaimana aka nada bagiku seorang anak laki-laki, sementara itu tidak pernah seorang manusia yang menyentuhku, dan  aku bukan pula seorang penzina “.

Tetapi, semua itu adalah ketetapan Allah, dan dalam waktu singkat, Maryam pun telah mengandung bayi yang telah diciptakan oleh Allah. Ketika menghadapi hal ini, Maryam pun berdoa “Ini adalah kasih sayang-Mu Wahai Tuhan-ku, ampun-Mu dan keridhoan-Mu. Engkaulah yang Maha Tahu apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri-Mu”.

Tidak ada satupun dihadapan Maryam kecuali satu hal, yaitu sepenuhnya menyerahkan diri, ridlo dengan sepenuh hati atas ketetapan Allah yang diridlokan untuk dirinya. Kejadian ini tentunya membuat Maryam menjadi wanita yang paling hina diantara kaumnya, ia disingkirkan, dan tidak ada satupun dari kaumnya yang mau menolongnya.

Singkatnya, dalam keadaan yang sangat sulit bagi seorang wanita, Maryam tetap teguh dalam keimanannya, dalam ketaatannya dan dalam keridloannya kepada apa yang telah Allah takdirkan untuk dirinya. Sampai pada akhirnya, ia melahirkan seorang bayi yang menjadi salah satu manusia pilihan Allah, yaitu Nabi Isa AS.

HIKMAH KISAH 
Gambaran singkat dari kisah Maryam, memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi manusia. Allah telah ridlo kepada Maryam dan demikian pula sebalikya, Maryam pun ridlo atas apa yang Allah tetapkan pada dirinya.

Kegemaran Maryam dalam melaksanakan puasa dan sholat malam, adalah ibadah yang juga dicontohkan oleh Rasulullah SAW melalui kegiatan ibadah pada bulan Ramadhan.
Puasa dan sholat malam adalah salah satu sarana yang Allah sediakan agar kita terlatih mencapai ridlo-Nya. Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang bermakna:”Barangsiapa yang berpuasa dan sholat malam dengan mengharap pahala (keridloan) Allah, maka dia keluar dari dosanya seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya’’. (HR. Ahmad)

Hal ini sebagaimana kisah Maryam, dalam sudut pandang manusia, tentunya tidak sulit bagi Allah apabila Maryam dinikahkan dengan lelaki yang sholeh sebagai pendamping, pembimbing dan pelindung dirinya. Dan tentunya, ini pun dapat dilakukan dengan cara halal, tetapi apa yang Allah putuskan terhadap Maryam sebagaimana kisah diatas, adalah bentuk keridloan-Nya. Dan Maryam pun ridlo atas apa yang Allah putuskan untuk dirinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar