Pada saat Nabi Ibrahim AS membawa Siti Hajar dan putranya menuju Makkah, Hajar dalam keadaan menyusui Ismail. Nabi Ibrahim AS menempatkan keduanya di sebuah rumah, di bawah pohon besar dekat mata air zam-zam muncul nantinya.
Pada saat itu, di Makkah tidak ada air dan seorang manusia pun. Nabi Ibrahim AS meletakkan keduanya disana, dan didekat mereka ada sebuah geribah (bejanah) yang didalamnya terdapat kurma dan bejana yang berisi air.
Setelah itu, Nabi Ibrahim AS berangkat dan diikuti oleh Hajar seraya berkata “Hai Ibrahim, kemana engkau akan pergi?, apakah engkau meninggalkan kami?, sedangkan di lembah ini tidak terdapat seorang manusia pun dan tidak ada makanan apapun?’’. Perkataan itu diucapkannya berkali-kali amun Nabi Ibrahim AS tidak menoleh sama sekali hingga akhirnya Siti Hajar berkata “Apakah Allah menyuruhmu melakukan ini?”. “Ya”, jawab Ibrahim. Kalau begitu, kami tidak disia-siakan”. Lanjut Siti Hajar.
Setelah kepergian Nabi Ibrahim AS, Hajar tetap menyusui Ismail dan minum dari yang tersedia sehingga ketika air yang ada dalam bejana itu habis, ia dan juga putranya merasa haus. Ketika Hajar nelihat putranya dalam keadaan lemas, ia pergi untuk mencari air karena tidak tega melihat keadaan putranya. Ia menuju bukit Shafa, salah satu bukit yang paling dekat dengannya. Lalu ia berdiri di atas bukit itu dan menghadap lembah sambil melihat-lihat, adakah orang di sana, namun ia tidak melihat seorang pun.
Setelah itu, ia turun kembali dari bukit Shafa sehingga sampai ke tengah-tengah lembah. Hajar mengangkat bagian bawah bajunya dan kemudian berusaha keras sehingga ia berhasil melewati lembah. Lalu ia mendatangi Marwah dan berdiri disana seraya melihat-lihat adakah orang disana. Ia lakukan hal itu sampai tujuh kali.
Setelah mendekati Marwah, ia mendengar suara yang menyeruhkan “Diam”. Lalu Hajar mencari suara tersebut hingga akhirnya ia berkata “Aku telah mendengarmu, apakah engkau dapat memberikan bantuan?”. Ternyata sumber air itu dari malaikat. Lalu malaikat itu mengais-ngais tanah hingga akhirnya muncul air. Siti Hajar pun mendatangi air tersebut dan mengisi bejananya dengan air dan kemudian menemui anaknya.
Kemudian malaikat berkata kepadanya “Janganlah engkau takut disia-siakan, karena disini akan dibangun sebuah rumah oleh anak ini bersama dengan bapaknya, dan sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan keluarga-Nya”.
Singkatnya, dengan adanya mata air zam-zam tersebut, dalam waktu singkat , tempat tersebut menjadi satu perkampungan yang kemudian terus membesar, sampai Makkah saat ini, yang didatangi oleh jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia.
Dalam kejadian ini Rasulullah SAW bersabda: “Semoga Allah memberikan rahmat kepada ibunya Ismail, seandainya ia tidak menciduk air zam-zam, niscaya air zam-zam itu hanya menjadi sumber air yang terbatas”.
Hikmah Kisah
Keimanan dan ketakwaan Siti Hajar dalam kisah ini diabadikan oleh Allah menjadi salah satu rukun yang wajib dilakukan dalam ibadah haji yaitu Sa’i. Banyak sekali hikmah yang terkandung dalam rukun ibadah haji. Salah satunya adalah, dalam menikmati sebuah proses kehidupan diperlukan kesabaran yang bukan berarti diam. Dengan berlarinya Hajar diantara Shafa dan Marwah, adalah bentuk ketakwaan yang ditunjukkan melalui satu upaya (Ikhtiar) sebatas yang bisa dilakukan oleh dirinya pada saat itu.
Boleh jadi, jika kita yang dihadapkan dalam keadaan seperti itu, dalam pikiran kita, tentunya, akan sia-sia saja ia berlari kian kemari, karena pada saat itu ditinggalkan pada satu tempat dimana tidak ada seorangpun disana. Artinya, kemungkinan untuk mendapatkan pertolongan, sangatlah kecil sekali apalagi untuk bertahan hidup. Walaupun demikian, Hajar tetap berlari kian kemari untuk mencari pertolongan. Kejadian ini juga memberikan kesimpulan kepada kita, bahwa, Hajar sendiri tidak pernah tahu kapan dan dimana pertolongan itu akan datang. Seandainya ia tahu, pastilah ia tidak akan berlari-lari, mungkin ia akan diam saja menunggu pertolongan itu. Tetapi dalam kisah ini, ia tidak kapan pertolongan itu akan datang, namun ia meyakini betul jika ia terus berusaha, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan hasil usaha dirinya.
Hal ini semakna dengan ayat:”Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka…”.
MUTIARA HIKMAH
Hadapilah kenyataan yang seakan-akan
Tidak ada jalan keluar darinya.
Anda kelak akan menjumpai di dunia ini hal-hal yang Anda tidak mampu mengubahnya
Tetapi hanya mampu berinteraksi dengan-Nya dengan berbekal kesabaran dan iman.
“Sesungguhnya Aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”. (QS. Maryam: 18)
Jumat, 03 Juni 2016
Masha Allah, Ini Dia 9 Amalan Utama Di Bulan Ramadhan yang Wajib Kamu Ketahui
Al-hamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.
Bulan Ramadhan adalah bulan Ibadah, bulan berbuat baik, bulan kebaikan, bulan simpati, bulan pembebasan dari neraka, bulan kemenangan atas nafsu, dan kemenangan. Pada bulan tersebut, Allah melimpahkan banyak kerunia kepada hamba-hamba-Nya dengan dilipatgandakan pahala dan diberi jaminan ampunan dosa bagi siapa yang bisa memanfaatkannya dengan semestinya. Berikut ini kami hadirkan beberapa amal-amal utama yang sangat ditekankan pada bulan Ramadhan.
1. Shiyam/Puasa
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
"Setiap amalan anak Adam akan dilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan akan berlipat menjadi 10 kebaikan sampai 700 kali lipat. Allah 'Azza wa Jalla berfirman, ‘Kecuali puasa, sungguh dia bagianku dan Aku sendiri yang akan membalasnya, karena (orang yang berpuasa) dia telah meninggalkan syahwatnyadan makannya karena Aku’. Bagi orang yang berpuasa mendapat dua kegembiraan; gembira ketika berbuka puasa dan gembria ketika berjumpa Tuhannya dengan puasanya. Dan sesungguhnya bau tidak sedap mulutnya lebih wangi di sisi Allah dari pada bau minyak kesturi.” (HR. Bukhari dan Muslim, lafadz milik Muslim)
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Siapa berpuasa Ramadhan imanan wa ihtisaban (dengan keimanan dan mengharap pahala), diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Tidak diragukan lagi, pahala yang besar ini tidak diberikan kepada orang yang sebatas meninggalkan makan dan minum semata. Ini sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam,
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
"Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah tidak butuh dengan ia meninggalkan makan dan minumnya." (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu) ini merupakan kiasan bahwa Allah tidak menerima puasa tersebut.
Dalam sabdanya yang lain, "Jika pada hari salah seorang kalian berpuasa, maka janganlah ia mengucapkan kata-kata kotor, membaut kegaduhan, dan juga tidak melakukan perbuatan orang-orang bodoh. Dan jika ada orang mencacinya atau mengajaknya berkelahi, maka hendaklah ia mengatakan, 'Sesungguhnya aku sedang berpuasa'." (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka jika Anda berpuasa, maka puasakan juga pendengaran, penglihatan, lisan, dan seluruh anggota tubuh. Jangan jadikan sama antara hari saat berpuasa dan tidak.
2. Al-Qiyam/shalat malam/Tarawih
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barangsiapa yang menunaikan shalat malam di bulan Ramadan dengan keimanan dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Allah Ta'ala berfirman,
وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا
"Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka." (QS. Al-Furqan: 63-64)
Qiyamul lail sudah menjadi rutinitas Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan para sahabatnya. 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha berkata, "Jangan tinggalkan shalat malam, karena sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak pernah meninggalkannya. Apabila beliau sakit atau melemah maka beliau shalat dengan duduk." (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
Umar bin Khathab Radhiyallahu 'Anhu biasa melaksanakan shalat malam sebanyak yang Allah kehendaki sehingga apabila sudah masuk pertengahan malam, beliau bangunkan keluarganya untuk shalat, kemudian berkata kepada mereka, "al-shalah, al-Shalah." Lalu beliau membaca:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى
"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa." (QS. Thaahaa: 132)
Dan Umar bin Khathab juga biasa membaca ayat berikut:
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ
"(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?" (QS. Al-Zumar: 9)
Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhuma berkata, "Luar biasa Utsman bin Affan Radhiyallahu 'Anhu" Ibnu Abi Hatim berkata, "Sesungguhnya Ibnu Umar berkata seperti itu karena banyaknya shalat malam dan membaca Al-Qur'an yang dikerjakan amirul Mukminin Utsman bin Affan Radhiyallahu 'Anhu sehingga beliau membaca Al-Qur'an dalam satu raka'at."
Dan bagi siapa yang melaksanakan shalat Tarawih hendaknya mengerjakannya bersama jama'ah sehingga akan dicatat dalam golongan qaimin, karena Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah bersabda, "Siapa yang shalat bersama imamnya sehingga selesai, maka dicatat baginya shalat sepanjang malam." (HR. Ahlus Sunan)
3. Shadaqah
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah manusia paling dermawan. Dan beliau lebih demawan ketika di bulan Ramadhan. Beliau menjadi lebih pemurah dengan kebaikan daripada angin yang berhembus dengan lembut. Beliau bersabda, "Shadaqah yang paling utama adalah shadaqah pada bulan Ramadhan." (HR. al-Tirmidzi dari Anas)
Sesungguhnya shadaqah di bulan Ramadhan memiliki keistimewaan dan kelebihan, maka bersegeralah dan semangat dalam menunaikannya sesuai kemampuan. Dan di antara bentuk shadaqah di bulan ini adalah:
a. memberi makan
Allah menerangkan tentang keutamaan memberi makan orang miskin dan kurang mampu yang membutuhkan, dan balasan yang akan didapatkan dalam firman-Nya:
وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا فَوَقَاهُمُ اللَّهُ شَرَّ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورًا وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيرًا
"Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya Kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera." (QS. Al-Nsan: 8-12)
Para ulama salaf sangat memperhatikan memberi makan dan mendahulukannya atas banyak macam ibadah, baik dengan mengeyangkan orang lapar atau memberi makan saudara muslim yang shalih. Dan tidak disyaratkan dalam memberi makan ini kepada orang yang fakir. Rasullullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Wahai manusia, tebarkan salam, berilah makan, sambunglah silaturahim, dan shalatlah malam di saat manusia tidur, niscaya engkau akan masuk surga dengan selamat." (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al-Albani)
Sebagian ulama salaf ada yang mengatakan, "Aku mengundang sepuluh sahabatku lalu aku beri mereka makan dengan makanan yang mereka suka itu lebih aku senangi dari pada membebaskan sepuluh budak dari keturunan Islmail."
Ada beberapa ulama yang memberi makan orang lain padahal mereka sedang berpuasa, seperti Abdullan bin Umar, Dawud al-Tha'i, Malik bin Dinar, dan Ahmad bin Hambal Radhiyallahu 'Anhum. Dan adalah Ibnu Umar, tidaklah berbuka kecuali dengan anak-anak yatim dan orang-orang miskin.
Ada juga sebagian ulama salaf lain yang memberi makan saudara-saudaranya sementara ia berpuasa, tapi ia tetap membantu mereka dan melayani mereka, di antaranya adalah al-Hasan al-Bashri dan Abdullah bin Mubarak.
Abu al-Saur al-Adawi berkata: Beberapa orang dari Bani Adi shalat di masjid ini. Tidaklah salah seorang mereka makan satu makananpun dengan sendirian. Jika ia dapatkan orang yang makan bersamanya maka ia makan, dan jika tidak, maka ia keluarkan makanannya ke masjid dan ia memakannya bersama orang-orang dan mereka makan bersamanya.
b. Memberi hidangan berbukan bagi orang puasa
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Siapa yang memberi berbuka orang puasa, baginya pahala seperti pahala orang berpuasa tadi tanpa dikurangi dari pahalanya sedikitpun." (HR. Ahmad, Nasai, dan dishahihkan al-Albani)
Dan dalam hadits Salman Radhiyallahu 'Anhu, "Siapa yang memberi makan orang puasa di dalam bulan Ramadhan, maka diampuni dosanya, dibebaskan dari neraka, dan baginya pahala seperti pahala orang berpuasa tadi tanpa dikurangi sedikitpun dari pahalanya."
. . . Sesungguhnya shadaqah di bulan Ramadhan memiliki keistimewaan dan kelebihan, maka bersegeralah dan semangat dalam menunaikannya sesuai kemampuan. . .
4. Bersungguh-sungguh dalam membaca Al-Qur'an
Dan ini sudah kami ulas dalam tulisan yang lalu berjudul: Teladan Salaf Dalam Membaca Al-Qur'an di Bulan Ramadhan.
5. Duduk di masjid sampai matahari terbit
Adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, apabila shalat Shubuh beliau duduk di tempat shalatnya hinga matahari terbit (HR. Muslim). Imam al-Tirmidzi meriwayatkan dari Anas, dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda,
مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ
"Siapa shalat Shubuh dengan berjama'ah, lalu duduk berdzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lalu shalat dua raka'at, maka baginya seperti pahala haji dan umrah sempurna, sempurna , sempurna." (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)
Keutamaan ini berlaku pada semua hari, lalu bagaimana kalau itu dikerjakan di bulan Ramadhan? Maka selayaknya kita bersemangat menggapainya dengan tidur di malam hari, meneladani orang-orang shalih yang bangun di akhirnya, dan menundukkan nafsu untuk tunduk kepada Allah dan bersemangat untuk menggapai derajat tinggi di surga.
6. I'tikaf
Adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam senantiasa beri'tikaf pada bulan Ramadhan selama 10 hari. Dan pada tahun akan diwafatkannya, beliau beri'tikaf selama 20 hari (HR. Bukhari dan Muslim). I'tikaf merupakan ibadah yang berkumpul padanya bermacam-macam ketaatan; berupa tilawah, shalat, dzikir, doa dan lainnya. Bagi orang yang belum pernah melaksanakannya, i'tikaf dirasa sangat berat. Namun, pastinya ia akan mudah bagi siapa yang Allah mudahkan. Maka siapa yang berangkat dengan niat yang benar dan tekad kuat pasti Allah akan menolong. Dianjrukan i'tikaf di sepuluh hari terakhir adalah untuk mendapatkan Lailatul Qadar. I'tikaf merupakan kegiatan menyendiri yang disyariatkan, karena seorang mu'takif (orang yang beri'tikaf) mengurung dirinya untuk taat kepada Allah dan mengingat-Nya, memutus diri dari segala kesibukan yang bisa mengganggu darinya, ia mengurung hati dan jiwanya untuk Allah dan melaksanakan apa saja yang bisa mendekatkan kepada-Nya. Maka bagi orang beri'tikaf, tidak ada yang dia inginkan kecuali Allah dan mendapat ridha-Nya.
7. Umrah pada bulan Ramadhan
Telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda,
عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ حَجَّةٌ
"Umrah pada bulan Ramadhan menyerupai haji." (HR. Al-Bukhari dan Muslim) dalam riwayat lain, "seperti haji bersamaku." Sebuah kabar gembira untuk mendapatkan pahala haji bersama Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
8. Menghidupkan Lailatul Qadar
Allah Ta'ala berfirman,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan." (QS. Al-Qadar: 1-3)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Dan siapa shalat pada Lailatul Qadar didasari imandan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Adalah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam berusaha mencari Lailatul Qadar dan memerintahkan para sahabatnya untuk mencarinya. Beliau juga membangunkan keluarganya pada malam sepuluh hari terakhir dengan harapan mendapatkan Lailatul Qadar. Dalam Musnad Ahmad, dari Ubadah secara marfu', "Siapa yang shalat untuk mencari Lailatul Qadar, lalu ia mendapatkannya, maka diampuni dosa-dosa-nya yang telah lalu dan akan datang." (Di dalam Sunan Nasai juga terdapat riwayat serupa, yang dikomentari oleh Al-hafidz Ibnul Hajar: isnadnya sesuai dengan syarat Muslim)
. . . Lailatul Qadar berada di sepuluh hari terakhir Ramadhan, tepatnya pada malam-malam ganjilnya. Dan malam yang paling diharapkan adalah malam ke 27-nya, sebagaimana yang diriwayatkan Muslim. . .
Terdapat beberapa keterangan, sebagian ulama salaf dari kalangan sahabat tabi'in, mereka mandi dan memakai wewangian pada malam sepuluh hari terakhir untuk mencari Lailatul Qadar yang telah Allah muliakan dan tinggikan kedudukannya. Wahai orang-orang yang telah menyia-nyiakan umurnya untuk sesuatu yang tak berguna, kejarlah yang luput darimu pada malam kemuliaan ini. Sesungghnya satu amal shalih yang dikerjakan di dalamnya adalah nilainya lebih baik daripada amal yang dikerjakan selama seribu bulan di luar yang bukan Lailatul Qadar. Maka siapa yang diharamkan mendapatkan kebaikan di dalamnya, sungguh dia orang yang jauhkan dari kebaikan.
Lailatul Qadar berada di sepuluh hari terakhir Ramadhan, tepatnya pada malam-malam ganjilnya. Dan malam yang paling diharapkan adalah malam ke 27-nya, sebagaimana yang diriwayatkan Muslim, dari Ubai bin Ka'ab Radhiyallahu 'Anhu, "Demi Allah, sungguh aku tahu malam keberapa itu, dia itu malam yang Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam memerintahkan kami untuk shalat, yaitu malam ke-27." Dan Ubai bersumpah atas itu dengan mengatakan, "Dengan tanda dan petunjuk yang telah dikabarkan oleh Ramadhan Shallallahu 'Alaihi Wasallam kepada kami, matahari terbit di pagi harinya dengan tanpa sinar yang terik/silau."
Dari 'Aisyah, ia berkata: Wahai Rasulullah, jika aku mendapatkan Lailatul Qadar, apa yang harus aku baca? Beliau menjawab, "Ucapkan:
اللَّهُمَّ إنَّك عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, menyukai pemberian maaf maka ampunilah aku." (HR. Ahmad dan al-Tirmidzi, dishahihkan Al-Albani)
9. Memperbanyak dzikir, doa dan istighfar
Sesungguhnya malam dan siang Ramadhan adalah waktu-waktu yang mulia dan utama, maka manfaatkanlah dengan memperbanyak dzikir dan doa, khususnya pada waktu-waktu istijabah, di antaranya:
- Saat berbuka, karena seorang yang berpuasa saat ia berbuka memiliki doa yang tak ditolak.
- Sepertiga malam terkahir saat Allah turun ke langit dunia dan berfirman, "Adakah orang yang meminta, pasti aku beri. Adakah orang beristighfar, pasti Aku ampuni dia."
- Beristighfar di waktu sahur, seperti yang Allah firmankan, "Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah)." (QS. Al-Dzaariyat: 18)
. . . Sesungguhnya berpuasa tidak hanya sebatas meninggalkan makan, minum, dan hubungan suami istri, tapi juga mengisi hari-hari dan malamnya dengan amal shalih. . .
Penutup
Sesungguhnya berpuasa tidak hanya sebatas meninggalkan makan, minum, dan hubungan suami istri, tapi juga mengisi hari-hari dan malamnya dengan amal shalih. Ini sebagai bentuk pembenaran akan janji Allah adanya pahala yang berlipat. Sekaligus juga sebagai pemuliaan atas bulan yang penuh barakah dan rahmat.
Beberapa amal-amal ibadah di atas memiliki kekhususan dan hubungan kuat dengan kegiatan Ramadhan, lebih utama dibandingkan dengan amal-amal lainnya. Maka selayaknya amal-amal tersebut mendapat perhatian lebih dari para shaimin (orang-orang yang berpuasa) agar mendapatkan pahala berlipat, limpahan rahmat, dan hujan ampunan. Sesungguhnya orang yang diharamkan kebaikan pada bulan Ramadhan, sungguh benar-benar diharamkan kebaikan darinya. Dan siapa yang keluar dari Ramadhan tanpa diampuni dosa-dosa dan kesalahannya, maka ia termasuk orang merugi. Wallahu Ta'ala A'lam.
Sumber : voa-islam.com
Bulan Ramadhan adalah bulan Ibadah, bulan berbuat baik, bulan kebaikan, bulan simpati, bulan pembebasan dari neraka, bulan kemenangan atas nafsu, dan kemenangan. Pada bulan tersebut, Allah melimpahkan banyak kerunia kepada hamba-hamba-Nya dengan dilipatgandakan pahala dan diberi jaminan ampunan dosa bagi siapa yang bisa memanfaatkannya dengan semestinya. Berikut ini kami hadirkan beberapa amal-amal utama yang sangat ditekankan pada bulan Ramadhan.
1. Shiyam/Puasa
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
"Setiap amalan anak Adam akan dilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan akan berlipat menjadi 10 kebaikan sampai 700 kali lipat. Allah 'Azza wa Jalla berfirman, ‘Kecuali puasa, sungguh dia bagianku dan Aku sendiri yang akan membalasnya, karena (orang yang berpuasa) dia telah meninggalkan syahwatnyadan makannya karena Aku’. Bagi orang yang berpuasa mendapat dua kegembiraan; gembira ketika berbuka puasa dan gembria ketika berjumpa Tuhannya dengan puasanya. Dan sesungguhnya bau tidak sedap mulutnya lebih wangi di sisi Allah dari pada bau minyak kesturi.” (HR. Bukhari dan Muslim, lafadz milik Muslim)
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Siapa berpuasa Ramadhan imanan wa ihtisaban (dengan keimanan dan mengharap pahala), diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Tidak diragukan lagi, pahala yang besar ini tidak diberikan kepada orang yang sebatas meninggalkan makan dan minum semata. Ini sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam,
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
"Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah tidak butuh dengan ia meninggalkan makan dan minumnya." (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu) ini merupakan kiasan bahwa Allah tidak menerima puasa tersebut.
Dalam sabdanya yang lain, "Jika pada hari salah seorang kalian berpuasa, maka janganlah ia mengucapkan kata-kata kotor, membaut kegaduhan, dan juga tidak melakukan perbuatan orang-orang bodoh. Dan jika ada orang mencacinya atau mengajaknya berkelahi, maka hendaklah ia mengatakan, 'Sesungguhnya aku sedang berpuasa'." (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka jika Anda berpuasa, maka puasakan juga pendengaran, penglihatan, lisan, dan seluruh anggota tubuh. Jangan jadikan sama antara hari saat berpuasa dan tidak.
2. Al-Qiyam/shalat malam/Tarawih
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barangsiapa yang menunaikan shalat malam di bulan Ramadan dengan keimanan dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Allah Ta'ala berfirman,
وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا
"Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka." (QS. Al-Furqan: 63-64)
Qiyamul lail sudah menjadi rutinitas Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan para sahabatnya. 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha berkata, "Jangan tinggalkan shalat malam, karena sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak pernah meninggalkannya. Apabila beliau sakit atau melemah maka beliau shalat dengan duduk." (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
Umar bin Khathab Radhiyallahu 'Anhu biasa melaksanakan shalat malam sebanyak yang Allah kehendaki sehingga apabila sudah masuk pertengahan malam, beliau bangunkan keluarganya untuk shalat, kemudian berkata kepada mereka, "al-shalah, al-Shalah." Lalu beliau membaca:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى
"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa." (QS. Thaahaa: 132)
Dan Umar bin Khathab juga biasa membaca ayat berikut:
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ
"(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?" (QS. Al-Zumar: 9)
Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhuma berkata, "Luar biasa Utsman bin Affan Radhiyallahu 'Anhu" Ibnu Abi Hatim berkata, "Sesungguhnya Ibnu Umar berkata seperti itu karena banyaknya shalat malam dan membaca Al-Qur'an yang dikerjakan amirul Mukminin Utsman bin Affan Radhiyallahu 'Anhu sehingga beliau membaca Al-Qur'an dalam satu raka'at."
Dan bagi siapa yang melaksanakan shalat Tarawih hendaknya mengerjakannya bersama jama'ah sehingga akan dicatat dalam golongan qaimin, karena Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah bersabda, "Siapa yang shalat bersama imamnya sehingga selesai, maka dicatat baginya shalat sepanjang malam." (HR. Ahlus Sunan)
3. Shadaqah
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah manusia paling dermawan. Dan beliau lebih demawan ketika di bulan Ramadhan. Beliau menjadi lebih pemurah dengan kebaikan daripada angin yang berhembus dengan lembut. Beliau bersabda, "Shadaqah yang paling utama adalah shadaqah pada bulan Ramadhan." (HR. al-Tirmidzi dari Anas)
Sesungguhnya shadaqah di bulan Ramadhan memiliki keistimewaan dan kelebihan, maka bersegeralah dan semangat dalam menunaikannya sesuai kemampuan. Dan di antara bentuk shadaqah di bulan ini adalah:
a. memberi makan
Allah menerangkan tentang keutamaan memberi makan orang miskin dan kurang mampu yang membutuhkan, dan balasan yang akan didapatkan dalam firman-Nya:
وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا فَوَقَاهُمُ اللَّهُ شَرَّ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورًا وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيرًا
"Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya Kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera." (QS. Al-Nsan: 8-12)
Para ulama salaf sangat memperhatikan memberi makan dan mendahulukannya atas banyak macam ibadah, baik dengan mengeyangkan orang lapar atau memberi makan saudara muslim yang shalih. Dan tidak disyaratkan dalam memberi makan ini kepada orang yang fakir. Rasullullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Wahai manusia, tebarkan salam, berilah makan, sambunglah silaturahim, dan shalatlah malam di saat manusia tidur, niscaya engkau akan masuk surga dengan selamat." (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al-Albani)
Sebagian ulama salaf ada yang mengatakan, "Aku mengundang sepuluh sahabatku lalu aku beri mereka makan dengan makanan yang mereka suka itu lebih aku senangi dari pada membebaskan sepuluh budak dari keturunan Islmail."
Ada beberapa ulama yang memberi makan orang lain padahal mereka sedang berpuasa, seperti Abdullan bin Umar, Dawud al-Tha'i, Malik bin Dinar, dan Ahmad bin Hambal Radhiyallahu 'Anhum. Dan adalah Ibnu Umar, tidaklah berbuka kecuali dengan anak-anak yatim dan orang-orang miskin.
Ada juga sebagian ulama salaf lain yang memberi makan saudara-saudaranya sementara ia berpuasa, tapi ia tetap membantu mereka dan melayani mereka, di antaranya adalah al-Hasan al-Bashri dan Abdullah bin Mubarak.
Abu al-Saur al-Adawi berkata: Beberapa orang dari Bani Adi shalat di masjid ini. Tidaklah salah seorang mereka makan satu makananpun dengan sendirian. Jika ia dapatkan orang yang makan bersamanya maka ia makan, dan jika tidak, maka ia keluarkan makanannya ke masjid dan ia memakannya bersama orang-orang dan mereka makan bersamanya.
b. Memberi hidangan berbukan bagi orang puasa
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Siapa yang memberi berbuka orang puasa, baginya pahala seperti pahala orang berpuasa tadi tanpa dikurangi dari pahalanya sedikitpun." (HR. Ahmad, Nasai, dan dishahihkan al-Albani)
Dan dalam hadits Salman Radhiyallahu 'Anhu, "Siapa yang memberi makan orang puasa di dalam bulan Ramadhan, maka diampuni dosanya, dibebaskan dari neraka, dan baginya pahala seperti pahala orang berpuasa tadi tanpa dikurangi sedikitpun dari pahalanya."
. . . Sesungguhnya shadaqah di bulan Ramadhan memiliki keistimewaan dan kelebihan, maka bersegeralah dan semangat dalam menunaikannya sesuai kemampuan. . .
4. Bersungguh-sungguh dalam membaca Al-Qur'an
Dan ini sudah kami ulas dalam tulisan yang lalu berjudul: Teladan Salaf Dalam Membaca Al-Qur'an di Bulan Ramadhan.
5. Duduk di masjid sampai matahari terbit
Adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, apabila shalat Shubuh beliau duduk di tempat shalatnya hinga matahari terbit (HR. Muslim). Imam al-Tirmidzi meriwayatkan dari Anas, dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda,
مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ
"Siapa shalat Shubuh dengan berjama'ah, lalu duduk berdzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lalu shalat dua raka'at, maka baginya seperti pahala haji dan umrah sempurna, sempurna , sempurna." (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)
Keutamaan ini berlaku pada semua hari, lalu bagaimana kalau itu dikerjakan di bulan Ramadhan? Maka selayaknya kita bersemangat menggapainya dengan tidur di malam hari, meneladani orang-orang shalih yang bangun di akhirnya, dan menundukkan nafsu untuk tunduk kepada Allah dan bersemangat untuk menggapai derajat tinggi di surga.
6. I'tikaf
Adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam senantiasa beri'tikaf pada bulan Ramadhan selama 10 hari. Dan pada tahun akan diwafatkannya, beliau beri'tikaf selama 20 hari (HR. Bukhari dan Muslim). I'tikaf merupakan ibadah yang berkumpul padanya bermacam-macam ketaatan; berupa tilawah, shalat, dzikir, doa dan lainnya. Bagi orang yang belum pernah melaksanakannya, i'tikaf dirasa sangat berat. Namun, pastinya ia akan mudah bagi siapa yang Allah mudahkan. Maka siapa yang berangkat dengan niat yang benar dan tekad kuat pasti Allah akan menolong. Dianjrukan i'tikaf di sepuluh hari terakhir adalah untuk mendapatkan Lailatul Qadar. I'tikaf merupakan kegiatan menyendiri yang disyariatkan, karena seorang mu'takif (orang yang beri'tikaf) mengurung dirinya untuk taat kepada Allah dan mengingat-Nya, memutus diri dari segala kesibukan yang bisa mengganggu darinya, ia mengurung hati dan jiwanya untuk Allah dan melaksanakan apa saja yang bisa mendekatkan kepada-Nya. Maka bagi orang beri'tikaf, tidak ada yang dia inginkan kecuali Allah dan mendapat ridha-Nya.
7. Umrah pada bulan Ramadhan
Telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda,
عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ حَجَّةٌ
"Umrah pada bulan Ramadhan menyerupai haji." (HR. Al-Bukhari dan Muslim) dalam riwayat lain, "seperti haji bersamaku." Sebuah kabar gembira untuk mendapatkan pahala haji bersama Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
8. Menghidupkan Lailatul Qadar
Allah Ta'ala berfirman,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan." (QS. Al-Qadar: 1-3)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Dan siapa shalat pada Lailatul Qadar didasari imandan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Adalah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam berusaha mencari Lailatul Qadar dan memerintahkan para sahabatnya untuk mencarinya. Beliau juga membangunkan keluarganya pada malam sepuluh hari terakhir dengan harapan mendapatkan Lailatul Qadar. Dalam Musnad Ahmad, dari Ubadah secara marfu', "Siapa yang shalat untuk mencari Lailatul Qadar, lalu ia mendapatkannya, maka diampuni dosa-dosa-nya yang telah lalu dan akan datang." (Di dalam Sunan Nasai juga terdapat riwayat serupa, yang dikomentari oleh Al-hafidz Ibnul Hajar: isnadnya sesuai dengan syarat Muslim)
. . . Lailatul Qadar berada di sepuluh hari terakhir Ramadhan, tepatnya pada malam-malam ganjilnya. Dan malam yang paling diharapkan adalah malam ke 27-nya, sebagaimana yang diriwayatkan Muslim. . .
Terdapat beberapa keterangan, sebagian ulama salaf dari kalangan sahabat tabi'in, mereka mandi dan memakai wewangian pada malam sepuluh hari terakhir untuk mencari Lailatul Qadar yang telah Allah muliakan dan tinggikan kedudukannya. Wahai orang-orang yang telah menyia-nyiakan umurnya untuk sesuatu yang tak berguna, kejarlah yang luput darimu pada malam kemuliaan ini. Sesungghnya satu amal shalih yang dikerjakan di dalamnya adalah nilainya lebih baik daripada amal yang dikerjakan selama seribu bulan di luar yang bukan Lailatul Qadar. Maka siapa yang diharamkan mendapatkan kebaikan di dalamnya, sungguh dia orang yang jauhkan dari kebaikan.
Lailatul Qadar berada di sepuluh hari terakhir Ramadhan, tepatnya pada malam-malam ganjilnya. Dan malam yang paling diharapkan adalah malam ke 27-nya, sebagaimana yang diriwayatkan Muslim, dari Ubai bin Ka'ab Radhiyallahu 'Anhu, "Demi Allah, sungguh aku tahu malam keberapa itu, dia itu malam yang Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam memerintahkan kami untuk shalat, yaitu malam ke-27." Dan Ubai bersumpah atas itu dengan mengatakan, "Dengan tanda dan petunjuk yang telah dikabarkan oleh Ramadhan Shallallahu 'Alaihi Wasallam kepada kami, matahari terbit di pagi harinya dengan tanpa sinar yang terik/silau."
Dari 'Aisyah, ia berkata: Wahai Rasulullah, jika aku mendapatkan Lailatul Qadar, apa yang harus aku baca? Beliau menjawab, "Ucapkan:
اللَّهُمَّ إنَّك عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, menyukai pemberian maaf maka ampunilah aku." (HR. Ahmad dan al-Tirmidzi, dishahihkan Al-Albani)
9. Memperbanyak dzikir, doa dan istighfar
Sesungguhnya malam dan siang Ramadhan adalah waktu-waktu yang mulia dan utama, maka manfaatkanlah dengan memperbanyak dzikir dan doa, khususnya pada waktu-waktu istijabah, di antaranya:
- Saat berbuka, karena seorang yang berpuasa saat ia berbuka memiliki doa yang tak ditolak.
- Sepertiga malam terkahir saat Allah turun ke langit dunia dan berfirman, "Adakah orang yang meminta, pasti aku beri. Adakah orang beristighfar, pasti Aku ampuni dia."
- Beristighfar di waktu sahur, seperti yang Allah firmankan, "Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah)." (QS. Al-Dzaariyat: 18)
. . . Sesungguhnya berpuasa tidak hanya sebatas meninggalkan makan, minum, dan hubungan suami istri, tapi juga mengisi hari-hari dan malamnya dengan amal shalih. . .
Penutup
Sesungguhnya berpuasa tidak hanya sebatas meninggalkan makan, minum, dan hubungan suami istri, tapi juga mengisi hari-hari dan malamnya dengan amal shalih. Ini sebagai bentuk pembenaran akan janji Allah adanya pahala yang berlipat. Sekaligus juga sebagai pemuliaan atas bulan yang penuh barakah dan rahmat.
Beberapa amal-amal ibadah di atas memiliki kekhususan dan hubungan kuat dengan kegiatan Ramadhan, lebih utama dibandingkan dengan amal-amal lainnya. Maka selayaknya amal-amal tersebut mendapat perhatian lebih dari para shaimin (orang-orang yang berpuasa) agar mendapatkan pahala berlipat, limpahan rahmat, dan hujan ampunan. Sesungguhnya orang yang diharamkan kebaikan pada bulan Ramadhan, sungguh benar-benar diharamkan kebaikan darinya. Dan siapa yang keluar dari Ramadhan tanpa diampuni dosa-dosa dan kesalahannya, maka ia termasuk orang merugi. Wallahu Ta'ala A'lam.
Sumber : voa-islam.com
Ustadz Kok Terima Amplop, Bagaimana Hukumnya ? Berikut Penjelasannya
Reportaseterkini.net - Ustadz Kok Terima Amplop. Why not? Mengajarkan Al-Qur'an adalah amal yang paling berhak untuk diberi penghargaan. Syaikh Utsaimin menjelaskan, jika mengajar, yang membutuhkan waktu, tenaga, fikiran, kelelahan, maka tidak apa-apa dia mengambil upah dengan dasar hadits Nabi :
إِنَّ اَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللهِ
Sesungguhnya perkara yang paling berhak kalian ambil upahnya adalah kitabullah. (Hadits shahih riwayat Bukhari, 5737 dari sahabat Ibnu Abbas).
Menerima atau mengambil upah karena mengajar Al-Qur`an atau dakwah, merupakan masalah yang diperselisihkan oleh para ulama.
Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat boleh menerima upah atau mengambil upah karena mengajarkan Al-Qur`an atau dakwah.
Sebagian Ulama yang lain berpendapat tidak boleh. Yang berpendapat seperti ini, yaitu: Imam Az Zuhri, Abu Hanifah dan Ishaq bin Rahawaih. Yang berpendapat boleh, mereka mengambil dalil hadits di atas yang diriwayatkan Imam Bukhari dari sahabat Ibnu Abbas, juga beberapa hadits yang lain, seperti Nabi menikahkan seorang sahabat dengan hafalan Qur’annya, dan ini haditsnya shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Sahl bin Sa’ad.
Pendapat yang rajih (kuat) dari dua pendapat ulama ini, yaitu tentang bolehnya mengambil upah dari mengajarkan Al-Qur`an dan berdakwah.
Tetapi yang perlu diingat, bahwa setiap orang yang menuntut ilmu, kemudian mengajarkan Al-Qur`an ataupun berdakwah, maka dia harus melakukannya semata-mata ikhlas karena Allah dan mengharapkan ganjaran dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Tidak boleh ia mengharapkan sesuatu dari manusia baik berbentuk harta maupun yang lainnya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ,لاَيَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَالَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Barangsiapa menuntut ilmu, yang seharusnya ia tuntut semata-mata mencari wajah Allah ‘Azza wa Jalla, namun ternyata ia menuntutnya semata-mata mencari keuntungan dunia, maka ia tidak akan mendapatkan aroma wanginya surga pada hari kiamat".
[Hadits shahih riwayat Abu Dawud, 3664; Ahmad, II/338; Ibnu Majah, 252; dan Hakim, I/85 dari sahabat Abu Hurairah. Hadits ini dishahihkan oleh Imam Hakim dan disetujui oleh Imam Adz Dzahabi].
Komentar saya; ngajarnya gratis, bensin, transport dan menyisihkan waktu sampai meninggalkan keluarga, itu yang seharusnya diberikan penghargaan yang pantas.
Titip motor tidak tambah pinter saja bayar Rp. 1000,- meskipun cuma sepuluh menit. Lantas kenapa anaknya dititip ke orang, plus tambah pinter mesti cari yang gratis?
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ اَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللهِ
"Sesungguhnya perkara yang paling berhak kalian ambil upahnya adalah kitabullah".
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam "Bab Upah Dalam Mengajarkan Al-Qur'an", Imam Al-Hakim dalam bab "Ijarah (Upah)", Imam Ibnu Hibban dalam "Bab Bolehnya Mengambil Upah Dalam Mengajar Al-Qur'an", Imam Baihaqi dalam "Bab Rizki Muadzin". Wallohu
Sumber : voa-islam.com
![]() |
| Oleh: Ustadz Fuad Al-Hazimi |
إِنَّ اَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللهِ
Sesungguhnya perkara yang paling berhak kalian ambil upahnya adalah kitabullah. (Hadits shahih riwayat Bukhari, 5737 dari sahabat Ibnu Abbas).
Menerima atau mengambil upah karena mengajar Al-Qur`an atau dakwah, merupakan masalah yang diperselisihkan oleh para ulama.
Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat boleh menerima upah atau mengambil upah karena mengajarkan Al-Qur`an atau dakwah.
Sebagian Ulama yang lain berpendapat tidak boleh. Yang berpendapat seperti ini, yaitu: Imam Az Zuhri, Abu Hanifah dan Ishaq bin Rahawaih. Yang berpendapat boleh, mereka mengambil dalil hadits di atas yang diriwayatkan Imam Bukhari dari sahabat Ibnu Abbas, juga beberapa hadits yang lain, seperti Nabi menikahkan seorang sahabat dengan hafalan Qur’annya, dan ini haditsnya shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Sahl bin Sa’ad.
Pendapat yang rajih (kuat) dari dua pendapat ulama ini, yaitu tentang bolehnya mengambil upah dari mengajarkan Al-Qur`an dan berdakwah.
Tetapi yang perlu diingat, bahwa setiap orang yang menuntut ilmu, kemudian mengajarkan Al-Qur`an ataupun berdakwah, maka dia harus melakukannya semata-mata ikhlas karena Allah dan mengharapkan ganjaran dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Tidak boleh ia mengharapkan sesuatu dari manusia baik berbentuk harta maupun yang lainnya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ,لاَيَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَالَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Barangsiapa menuntut ilmu, yang seharusnya ia tuntut semata-mata mencari wajah Allah ‘Azza wa Jalla, namun ternyata ia menuntutnya semata-mata mencari keuntungan dunia, maka ia tidak akan mendapatkan aroma wanginya surga pada hari kiamat".
[Hadits shahih riwayat Abu Dawud, 3664; Ahmad, II/338; Ibnu Majah, 252; dan Hakim, I/85 dari sahabat Abu Hurairah. Hadits ini dishahihkan oleh Imam Hakim dan disetujui oleh Imam Adz Dzahabi].
Komentar saya; ngajarnya gratis, bensin, transport dan menyisihkan waktu sampai meninggalkan keluarga, itu yang seharusnya diberikan penghargaan yang pantas.
Titip motor tidak tambah pinter saja bayar Rp. 1000,- meskipun cuma sepuluh menit. Lantas kenapa anaknya dititip ke orang, plus tambah pinter mesti cari yang gratis?
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ اَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللهِ
"Sesungguhnya perkara yang paling berhak kalian ambil upahnya adalah kitabullah".
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam "Bab Upah Dalam Mengajarkan Al-Qur'an", Imam Al-Hakim dalam bab "Ijarah (Upah)", Imam Ibnu Hibban dalam "Bab Bolehnya Mengambil Upah Dalam Mengajar Al-Qur'an", Imam Baihaqi dalam "Bab Rizki Muadzin". Wallohu
Sumber : voa-islam.com
Tips Menjaga Terangnya Hati, Baca ini Sebentar ya
Langkah pemeliharaan ini setara dengan pencegahan, yg ini tanpa disuguhkan harusnya sudah jadi menu harian bagi kita yg mendamba hati yg sehat. Langkah tersebut adalah:
Pertama, tentang kebiasaan membaca Al-Qur’an yg disertai memahami maknanya. Sudahkah kita rutin membacanya? Padahal Allah SWT telah mengabarkan bahwa andai al-Quran diturunkan pada gunung-gunung yang kokoh, niscaya dia akan menjadi hancur-lebur karena takut kepada Allah (QS al-Hasyr: 21).
Kedua, tentang qiyamul lail, seperti tahajud, sholat taubat, apakah sudah jadi kebiasaan kita? Apalagi kalau kita bisa tawadhu, khusyuk, dan ikhlas hingga kita bisa menangis. Nabi saw. bersabda, “Ada dua mata yg tak akan disentuh api neraka: mata yg menangis karena takut kepada Allah dan mata yang tak tidur di malam hari karena berjaga di jalan Allah.” (HR at-Tirmidzi). .
Ketiga, berkumpul dg orang shalih harusnya juga jadi kebiasaan kita bagi yang ingin menyemai hati yg selamat. Dengan siapa kita berteman, itu menunjukkan kebiasaan kita. Perhatikan sabda Rasulullah Saw berikut: “Orang itu tergantung agama kawannya, maka hendaknya setiap diri kalian berhati-hati dalam memilih teman” (HR. Ahmad). .
Keempat, berdzikir secara rutin adalah bentuk penyerahan diri & sikap taqarub kita kepada Allah. Bahkan ada korelasi yg cukup kuat antara berdzikir dengan qalbu. Allah Swt menyampaikan firman-Nya: “(Yaitu) orang-orang yg beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d 28). .
Kelima, berpuasa sunnah juga bisa jadi benteng bagi kita sehingga Nabi Muhammad SAW bersabda, "...maka hendaklah ia berpuasa, sesungguhnya puasa bisa menjadi benteng baginya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Yang dimaksudkan benteng (junnah) di sini adalah perisai yg menjaga diri dari penyakit fisik dan jiwa.
Langkah diatas harus simultan dengan fiqul aulawiyat alias skala prioritas terhadap pelaksanaan hukum syariat, yakni melaksanakan yg wajib sebelum yg mandub, meninggalkan yg haram dan makruh, serta mengurangi yg mubah.
Pertama, tentang kebiasaan membaca Al-Qur’an yg disertai memahami maknanya. Sudahkah kita rutin membacanya? Padahal Allah SWT telah mengabarkan bahwa andai al-Quran diturunkan pada gunung-gunung yang kokoh, niscaya dia akan menjadi hancur-lebur karena takut kepada Allah (QS al-Hasyr: 21).
Kedua, tentang qiyamul lail, seperti tahajud, sholat taubat, apakah sudah jadi kebiasaan kita? Apalagi kalau kita bisa tawadhu, khusyuk, dan ikhlas hingga kita bisa menangis. Nabi saw. bersabda, “Ada dua mata yg tak akan disentuh api neraka: mata yg menangis karena takut kepada Allah dan mata yang tak tidur di malam hari karena berjaga di jalan Allah.” (HR at-Tirmidzi). .
Ketiga, berkumpul dg orang shalih harusnya juga jadi kebiasaan kita bagi yang ingin menyemai hati yg selamat. Dengan siapa kita berteman, itu menunjukkan kebiasaan kita. Perhatikan sabda Rasulullah Saw berikut: “Orang itu tergantung agama kawannya, maka hendaknya setiap diri kalian berhati-hati dalam memilih teman” (HR. Ahmad). .
Keempat, berdzikir secara rutin adalah bentuk penyerahan diri & sikap taqarub kita kepada Allah. Bahkan ada korelasi yg cukup kuat antara berdzikir dengan qalbu. Allah Swt menyampaikan firman-Nya: “(Yaitu) orang-orang yg beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d 28). .
Kelima, berpuasa sunnah juga bisa jadi benteng bagi kita sehingga Nabi Muhammad SAW bersabda, "...maka hendaklah ia berpuasa, sesungguhnya puasa bisa menjadi benteng baginya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Yang dimaksudkan benteng (junnah) di sini adalah perisai yg menjaga diri dari penyakit fisik dan jiwa.
Langkah diatas harus simultan dengan fiqul aulawiyat alias skala prioritas terhadap pelaksanaan hukum syariat, yakni melaksanakan yg wajib sebelum yg mandub, meninggalkan yg haram dan makruh, serta mengurangi yg mubah.
Astaghfirullah, Ahok Lecehkan Sholat Umat Islam, Lu Doa aja Jungkir Balik !
Aksi demonstrasi digagas musisi Ahmad Dhani dan aktivis Ratna Sarumpaet dengan mengusung tema ‘Panggung Aksi Tangkap Ahok’ di depan gedung KPK akhirnya digagalkan polisi. Selain gagal, polisi juga menahan kendaraan trailer serta delapan orang kru.
Polisi beralasan, panggung rakyat itu dibatalkan untuk menghindari kemacetan di ruas Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Apalagi panggung yang digunakan cukup besar dan panjang.
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau akrab disapa Ahok menilai dengan memasang panggung ukuran besar, tentu saja membuat ruas jalan di kawasan itu akan macet. Dia mengingatkan Dhani ingin mendesak KPK untuk menangkap Ahok, tidak harus dengan cara membuat jalanan macet.
Ahok Dhani“Kamu pasang satu band gitu bikin macet satu Jakarta,” kata Ahok di RPTRA Utan Kayu Utara, Matraman, Jakarta, Jumat, 3 Juni 2016.
Ahok menyindir desakan Dhani kepada KPK. Jika Dhani berambisi menginginkan Ahok ditangkap dan ditetapkan tersangka oleh KPK atas sejumlah kasus, lebih baik melakukan ibadah puasa, salat dan berdoa dengan keras.
“Lu doa saja jungkir balik, puasa 40 hari 40 malam kek,” kata Ahok.
Pernyatan Ahok ini sontak direspon keras oleh netizen.
Netizen @ajengcute16 misalnya, langsung meluapkan emosi dan menulis bahwa Ahok sudah keterlaluan karena meremehkan agama.
“Keterlaluan pernyataan Ahok sdh anggap remeh Agama udh ky PKI”, tulis @ajengcute16.
Senada dengan Ajeng, netizen yang terkenal karena pernah ditahan atas tuduhan pencemaran nama baik Presiden, Dr, Yulianus Paonganan menuliskan bahwa komentar Ahok sudah keterlaluan.
“wah…ini udh keterlaluan…!!!”, tulis Ongen, nama akrab Yulianus Paonganan.(ts/portalpiyungan)
Sumber : Eramuslim.com
Polisi beralasan, panggung rakyat itu dibatalkan untuk menghindari kemacetan di ruas Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Apalagi panggung yang digunakan cukup besar dan panjang.
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau akrab disapa Ahok menilai dengan memasang panggung ukuran besar, tentu saja membuat ruas jalan di kawasan itu akan macet. Dia mengingatkan Dhani ingin mendesak KPK untuk menangkap Ahok, tidak harus dengan cara membuat jalanan macet.
Ahok Dhani“Kamu pasang satu band gitu bikin macet satu Jakarta,” kata Ahok di RPTRA Utan Kayu Utara, Matraman, Jakarta, Jumat, 3 Juni 2016.
Ahok menyindir desakan Dhani kepada KPK. Jika Dhani berambisi menginginkan Ahok ditangkap dan ditetapkan tersangka oleh KPK atas sejumlah kasus, lebih baik melakukan ibadah puasa, salat dan berdoa dengan keras.
“Lu doa saja jungkir balik, puasa 40 hari 40 malam kek,” kata Ahok.
Pernyatan Ahok ini sontak direspon keras oleh netizen.
Netizen @ajengcute16 misalnya, langsung meluapkan emosi dan menulis bahwa Ahok sudah keterlaluan karena meremehkan agama.
“Keterlaluan pernyataan Ahok sdh anggap remeh Agama udh ky PKI”, tulis @ajengcute16.
Senada dengan Ajeng, netizen yang terkenal karena pernah ditahan atas tuduhan pencemaran nama baik Presiden, Dr, Yulianus Paonganan menuliskan bahwa komentar Ahok sudah keterlaluan.
“wah…ini udh keterlaluan…!!!”, tulis Ongen, nama akrab Yulianus Paonganan.(ts/portalpiyungan)
Sumber : Eramuslim.com
Kisah Musa Dan Keluarga, Ketika Celana Cingkrang, Jenggot dan Cadar Mengharumkan Indonesia
Sejak bertahun-tahun lalu, dan ini tidak dipungkiri lagi telah terjadi, ada semacam pembelokan persepsi terhadap beberapa syiar dan simbol ajaran agama Islam. Syariat, syiar dan simbol yang seharusnya mulia dan dimuliakan, ternyata menjadi olok-olok oleh sebagian orang yang tak bertanggung jawab.
Salah satunya adalah jenggot dan cadar, dengan tambahan celana cingkrang dan jidat hitam. Tidak hanya olok-olok, keempat tanda itu bahkan disempitkan lagi menjadi ciri tak tertulis bagi para pelaku teror. Artinya, para pelaku teror pasti tidak jauh-jauh dari orang yang bercelana cingkrang, berjenggot lebat dan berjidat hitam, serta istrinya memakai cadar penutup muka.
Itu semua terjadi berkat upaya gigih dari media –dan tentu saja kelompok yang bermain di belakangnya, sehingga masyarakat awam pun banyak yang tersugesti dengannya. Dan sayangnya, tidak sedikit pula orang-orang yang dianggap sebagai tokoh agama kemudian latah dan ikut-ikutan tersugesti. .
Kemunculan Musa sejak dua tahun lalu di salah satu stasiun televisi nasional, kemudian membuka banyak mata manusia. Musa, yang kala itu masih berusia 5,5 tahun, telah hafal hampir satu Mushaf Al-Quran.
Prestasi Musa kemudian meningkat ke skala lebih luas tatkala ia mengikuti Musabaqah Hifdzil Quran di Arab Saudi pada pertengahan 2014 lalu. Musa mendapat nilai 90,83, bukan prestasi yang main-main tentunya. Dan baru beberapa hari lalu, Musa mengikuti Musabaqah Hifzil Quran di Mesir. Musa, bahkan mendapat nilai 91,17. Nama Indonesia terangkat di mata dunia berkat Musa si hafidz cilik.
Banyak kalangan, baik masyarakat awam, pejabat, bahkan presiden di negeri ini memberikan pujian untuk Musa. Tentu saja pujian tersebut juga dialamatkan kepada keluarga Musa.
Dan setelah kemunculan Musa, mau tidak mau keluarganya juga kemudian menjadi dikenal oleh masyarakat luas. Banyak yang bertanya tentang bagaimana resep dan cara agar anak-anak mereka bisa seperti Musa.
Munculah ayah Musa di depan kamera. Ayah Musa, dengan celana cingkrang, jenggot dan jidat hitam menyampaikan kegiatan Musa sehari-hari. Kemudian muncul pula gambar ibunda Musa, lengkap dengan gamis hitam dan cadarnya, yang ikut menjelaskan resep rahasianya.
Meluruskan Pandangan
Secara tidak langsung, Musa dan keluarga dengan ciri dan simbol “teroris” yang dipaksakan, justru membuat harum nama Indonesia di mata dunia. Banyak negara dan tokoh negara lain yang terpana, serta terpesona dengan kehebatan Musa. Indonesia berhutang kepada Musa dan keluarganya.
Dari sini, semoga bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat kita, bahwa tak ada hubungan resmi antara kegiatan terorisme dengan syiar ajaran agama Islam, entah itu jenggot, cadar ataupun yang lainnya. Justru itulah ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena sesungguhnya Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin, yang melarang setiap perbuatan terorisme dan ekstrimisme.
Semoga Musa, dan keluarganya, dengan celana cingkrang dan cadar penutup wajah, dengan jenggot dan jidat hitam, mampu meluruskan pandangan yang salah di mata masyarakat. Terima kasih Adek Musa.
Sumber: jurnalmuslim.com
Salah satunya adalah jenggot dan cadar, dengan tambahan celana cingkrang dan jidat hitam. Tidak hanya olok-olok, keempat tanda itu bahkan disempitkan lagi menjadi ciri tak tertulis bagi para pelaku teror. Artinya, para pelaku teror pasti tidak jauh-jauh dari orang yang bercelana cingkrang, berjenggot lebat dan berjidat hitam, serta istrinya memakai cadar penutup muka.
Itu semua terjadi berkat upaya gigih dari media –dan tentu saja kelompok yang bermain di belakangnya, sehingga masyarakat awam pun banyak yang tersugesti dengannya. Dan sayangnya, tidak sedikit pula orang-orang yang dianggap sebagai tokoh agama kemudian latah dan ikut-ikutan tersugesti. .
Kemunculan Musa sejak dua tahun lalu di salah satu stasiun televisi nasional, kemudian membuka banyak mata manusia. Musa, yang kala itu masih berusia 5,5 tahun, telah hafal hampir satu Mushaf Al-Quran.
Prestasi Musa kemudian meningkat ke skala lebih luas tatkala ia mengikuti Musabaqah Hifdzil Quran di Arab Saudi pada pertengahan 2014 lalu. Musa mendapat nilai 90,83, bukan prestasi yang main-main tentunya. Dan baru beberapa hari lalu, Musa mengikuti Musabaqah Hifzil Quran di Mesir. Musa, bahkan mendapat nilai 91,17. Nama Indonesia terangkat di mata dunia berkat Musa si hafidz cilik.
Banyak kalangan, baik masyarakat awam, pejabat, bahkan presiden di negeri ini memberikan pujian untuk Musa. Tentu saja pujian tersebut juga dialamatkan kepada keluarga Musa.
Dan setelah kemunculan Musa, mau tidak mau keluarganya juga kemudian menjadi dikenal oleh masyarakat luas. Banyak yang bertanya tentang bagaimana resep dan cara agar anak-anak mereka bisa seperti Musa.
Munculah ayah Musa di depan kamera. Ayah Musa, dengan celana cingkrang, jenggot dan jidat hitam menyampaikan kegiatan Musa sehari-hari. Kemudian muncul pula gambar ibunda Musa, lengkap dengan gamis hitam dan cadarnya, yang ikut menjelaskan resep rahasianya.
Meluruskan Pandangan
Secara tidak langsung, Musa dan keluarga dengan ciri dan simbol “teroris” yang dipaksakan, justru membuat harum nama Indonesia di mata dunia. Banyak negara dan tokoh negara lain yang terpana, serta terpesona dengan kehebatan Musa. Indonesia berhutang kepada Musa dan keluarganya.
Dari sini, semoga bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat kita, bahwa tak ada hubungan resmi antara kegiatan terorisme dengan syiar ajaran agama Islam, entah itu jenggot, cadar ataupun yang lainnya. Justru itulah ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena sesungguhnya Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin, yang melarang setiap perbuatan terorisme dan ekstrimisme.
Semoga Musa, dan keluarganya, dengan celana cingkrang dan cadar penutup wajah, dengan jenggot dan jidat hitam, mampu meluruskan pandangan yang salah di mata masyarakat. Terima kasih Adek Musa.
Sumber: jurnalmuslim.com
Ramadhan Itu Bulan Al-Qur'an Bukan Bulan Makanan, Bantu Share ya
Al-Hamdulillah, Ikhwani Fillah! Madrasah Ramadhan adalah madrasah tahunan. Yakni datang kepada kita setahun sekali. Kita mengkaji di dalamnya bagaimana Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan para sahabatnya, serta keluarga-keluarga suci beliau, bagaimana mereka beramal di bulan Ramadhan, di madrasah nabawiyah yang penuh berkah? Agar kita melihat, apakah rumah-rumah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, apakah mereka memberi perhatian lebih kepada makanan?
Kita tidak pernah mendengar dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau memberi perhatian lebih kepada makanan satu kalipun. Apa yang sampai ke beliau maka beliau memakannya.
Terdapat keterangan dari beliau di madarasah Ramadhan ini, beliau berbuka dengan beberapa butir ruthob (kurma basah), 3 butir dan terkadang 5 butir. Jika tidak ada ruthob, beliau berbuka dengan beberapa butir kurma kering. Jika tidak ada kurma, beliau berbuka dengan sedikit susu. Jika tidak ada susu maka beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam berbuka dengan air.
Kenapa kita tidak perhatian sebagaimana perhatiannya Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan keluarganya?
Bulan ini adalah bulan menuntut kita bersungguh-sungguh menjalankan agama dengan membaca Al-Qur'an. Karena Ramadhan adalah syahrul Qur’an. Kenikmatan Al-Qur'an di Ramadhan tidak ada tandingannya. Bulan yang mengenyangkan ruh. Tilawah Al-Qur'an di Ramadhan, buat muslim sangat kuat mengerjakannya di Ramadhan.
Tetapi apa yang diinginkan ahlu syahwat dari kita? Mereka menawarkan kepada kita macam-macam makanan, minuman, tawaran-tawaran menarik sebelum Ramadhan supaya kita membelinya dan melengkapinya supaya kita berbuka dengannya di Ramadhan.
Wahai kaum muslimin, Apakah hidangan mengambil kedudukan ini? Di mana Hak Allah ‘Azza wa Jalla dari Ramadhan?
Bagaimana kita memberikan hak kepada hidangan, tapi kita tidak memberikan haknya Allah? tidak memberikan haknya Al-Qur'an? tidak memberikan haknya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dengan ittiba’?
Sumber : voa-islam.com
Kita tidak pernah mendengar dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau memberi perhatian lebih kepada makanan satu kalipun. Apa yang sampai ke beliau maka beliau memakannya.
Terdapat keterangan dari beliau di madarasah Ramadhan ini, beliau berbuka dengan beberapa butir ruthob (kurma basah), 3 butir dan terkadang 5 butir. Jika tidak ada ruthob, beliau berbuka dengan beberapa butir kurma kering. Jika tidak ada kurma, beliau berbuka dengan sedikit susu. Jika tidak ada susu maka beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam berbuka dengan air.
Kenapa kita tidak perhatian sebagaimana perhatiannya Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan keluarganya?
Bulan ini adalah bulan menuntut kita bersungguh-sungguh menjalankan agama dengan membaca Al-Qur'an. Karena Ramadhan adalah syahrul Qur’an. Kenikmatan Al-Qur'an di Ramadhan tidak ada tandingannya. Bulan yang mengenyangkan ruh. Tilawah Al-Qur'an di Ramadhan, buat muslim sangat kuat mengerjakannya di Ramadhan.
Tetapi apa yang diinginkan ahlu syahwat dari kita? Mereka menawarkan kepada kita macam-macam makanan, minuman, tawaran-tawaran menarik sebelum Ramadhan supaya kita membelinya dan melengkapinya supaya kita berbuka dengannya di Ramadhan.
Wahai kaum muslimin, Apakah hidangan mengambil kedudukan ini? Di mana Hak Allah ‘Azza wa Jalla dari Ramadhan?
Bagaimana kita memberikan hak kepada hidangan, tapi kita tidak memberikan haknya Allah? tidak memberikan haknya Al-Qur'an? tidak memberikan haknya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dengan ittiba’?
Sumber : voa-islam.com
Langganan:
Postingan (Atom)






